Saraf Terjepit pada Angkat Berat: Pengertian Penyebab dan Pemulihannya

22
Saraf Terjepit pada Angkat Berat: Pengertian Penyebab dan Pemulihannya

Latihan kekuatan adalah alat yang ampuh untuk kesehatan dan kebugaran, namun memiliki risiko tersendiri. Salah satu masalah umum di kalangan atlet angkat besi adalah saraf terjepit – suatu kondisi menyakitkan akibat saraf terkompresi di tubuh. Artikel ini menguraikan penyebab saraf terjepit dalam angkat beban, cara mengenalinya, serta strategi pengobatan dan pencegahan.

Apa Yang Terjadi Jika Saraf Terjepit?

Sistem saraf manusia adalah jaringan saraf kompleks yang bertanggung jawab untuk mengirimkan sinyal ke seluruh tubuh. Saraf menyampaikan sensasi (seperti nyeri atau sentuhan) dan memicu pergerakan otot. Ketika saraf-saraf ini terjepit – oleh otot, tulang, tendon, atau tulang rawan – maka fungsinya akan terganggu sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman. Gejalanya meliputi nyeri, kesemutan, mati rasa, dan kelemahan di area yang terkena.

Lokasinya berbeda-beda: saraf terjepit bisa terjadi di tulang belakang (linu panggul, menyebabkan nyeri di kaki), pergelangan tangan (menimbulkan jari), atau leher. Tingkat keparahannya berkisar dari iritasi ringan hingga rasa sakit yang melemahkan yang mengganggu kehidupan sehari-hari.

Angkat Berat Sebagai Pemicunya

Mengangkat beban berat dan gerakan berulang memberikan tekanan yang signifikan pada tubuh. Hal ini membuat atlet angkat besi sangat rentan terhadap saraf terjepit. Sebuah studi tahun 2009-2018 menemukan bahwa lebih dari 21% cedera saraf tepi dikaitkan dengan olahraga, olahraga, atau rekreasi.

Risikonya bukan hanya soal beban berat; teknik yang buruk, penggunaan yang berlebihan, dan kurangnya fleksibilitas juga berkontribusi. Otot-otot yang menegang di sekitar saraf, atau bentuk yang tidak tepat yang membuat tulang belakang tegang, dapat dengan cepat menyebabkan kompresi.

Mengenali Tanda-tandanya

Selain rasa sakit, perhatikan tanda-tanda peringatan berikut:

  • Mati rasa : Hilangnya sensasi pada area tertentu.
  • Kesemutan : Sensasi “kesemutan”.
  • Kelemahan Otot : Kesulitan menggerakkan atau mengendalikan otot.

Mengabaikan gejala-gejala ini dan memaksakan rasa sakit dapat memperburuk kondisi.

Perawatan dan Pemulihan

Langkah pertama adalah istirahat. Terus melakukan pengangkatan dengan saraf terjepit hanya akan memperburuk masalah. Sesuaikan rutinitas Anda: fokuslah pada aktivitas yang tidak memperburuk area yang terkena dampak. Misalnya, jika leher Anda yang bermasalah, beralihlah ke latihan tubuh bagian bawah seperti bersepeda stasioner atau jongkok beban tubuh.

Kasus yang lebih parah mungkin memerlukan intervensi medis:

  • Belat atau Kerah : Melumpuhkan area yang terkena untuk mengurangi tekanan.
  • Terapi Fisik : Latihan yang ditargetkan untuk memperkuat otot dan meningkatkan fungsi saraf.
  • Pembedahan (jarang) : Dicadangkan untuk kasus ekstrem ketika pengobatan lain gagal.

Penting: Selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi obat apa pun, bahkan obat antiradang yang dijual bebas, karena dapat menimbulkan efek samping.

Pencegahan adalah Kuncinya

Melindungi saraf Anda memerlukan pendekatan holistik:

  1. Postur Tubuh yang Baik : Pertahankan keselarasan yang benar saat duduk, berdiri, dan mengangkat.
  2. Teknik Mengangkat yang Benar : Tekuk lutut, jaga agar beban tetap dekat dengan tubuh, dan hindari ketegangan pada punggung. Dapatkan bimbingan dari pelatih jika diperlukan.
  3. Kekuatan dan Fleksibilitas : Fokus pada kekuatan fungsional (gerakan yang meniru aktivitas kehidupan nyata) daripada hanya sekedar gerakan massal. Lakukan peregangan untuk meredakan ketegangan otot.
  4. Variasi : Putar latihan secara teratur untuk mencegah cedera akibat penggunaan berlebihan. Otot beradaptasi terhadap stres, jadi mengubah rutinitas Anda akan memaksanya bekerja dengan cara baru.

Mengabaikan praktik-praktik ini dapat menyebabkan cedera. Tindakan pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan mengobati nyeri kronis.

Saraf terjepit dalam angkat besi dapat dicegah dengan pendekatan yang tepat. Dengan memprioritaskan teknik, fleksibilitas, dan pemulihan yang tepat, atlet angkat besi dapat meminimalkan risiko dan tetap kuat dalam jangka panjang.